Pasca

Pasca-Perpanjangan GSP , RI Tingkatkan Kerja Sama dengan AS

Selain akan menggenjot arus perdagangan dua arah, fasilitas GSP akan meningkatkan investasi.

Oleh : Novy Lumanauw /Suasana aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat, 7 Agustus 2020. (Foto: Beritasatu Photo)Washington, Beritasatu.com- Keputusan Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperpanjang preferensi tarif

Muhammadiyah Minta Pemerintah Berani Tertibkan Acara Rizieq Nikita Mirzani Diancam Digeruduk Massa, Polisi Patroli di Rumahnya Instagram Punya Fitur Baru, Pesan Hilang Setelah Dibaca Generalized System of PreferencesGSP) kepada Indonesia pada 30 Oktober 2020, menghadirkan optimisme baru bagi peningkatan kerja sama bisnis yang lebih erat kedua negara. Selain akan menggenjot arus perdagangan dua arah, fasilitas itu akan meningkatkan investasi.

Menurut Duta Besar RI untuk AS, Muhammad Lutfi, perpanjangan GSP ini tidak terlepas dari hubungan bilateral antara Indonesia dan AS, termasuk di tingkat pemimpin kedua negara.”Fasilitas GSP penting dalam membantu agar produk-produk ekspor unggulan Indonesia terus kompetitif di pasar AS yang dikenal memiliki tingkat persaingan tinggi. Apalagi selama ini AS merupakan pasar ekspor non-migas terbesar kedua di dunia bagi Indonesia”, tegasnya dalam keterangannya Jumat ({13|thirteen}/{11|eleven}/2020).

BACA JUGASetelah GSP, Dubes Lutfi Optimistis Arus Perdagangan RI-AS MeningkatTahun 2019, ekspor Indonesia dengan fasilitas GSP, nilainya mencapai US$ 2,{61|sixty one} miliar atau setara dengan {13|thirteen},1% dari keseluruhan ekspor Indonesia ke AS yang berjumlah US$ 20,1 miliar. Sementara untuk periode Januari-Agustus 2020, nilainya berjumlah US$ 1,87 miliar atau naik 10,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Usai mendapatkan perpanjangan GSP, langkah yang segera kita lakukan menyusun {road|street|highway} plandengan memfokuskan pada skema 5+7+5, yakni: lima produk utama ({apparel|attire}, produk karet, alas kaki, elektronik dan furnitur), tujuh produk potensial (produk kayu,

{travel|journey} {goods|items}, produk kimia lainnya, perhiasan, mainan, rambut artifisial dan produk kertas) dan lima produk strategis (produk mesin, produk plastik, suku cadang otomotif, alat optik dan medis dan produk kimia organik)”, sambungnya.Selama ini, dari {3|three}.572 pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP, tercatat baru 729 pos tarif atau praktis hanya sebesar 20,{4|four}% yang menggunakan tarif nol persen ke pasar AS. Sisanya, hampir {80|eighty}% belum dimaanfaatkan.

“Terkait hal ini, KBRI Washington DC bersama kementerian terkait dan Kadin Indonesia, khususnya KIKAS (Kadin Indonesia Komite AS), segera melakukan program sosialisasi yang intensif kepada eksportir Indonesia agar mereka dapat mengoptimalkan preferensi tarif ini,” tambahnya.

PDIP Soroti Protokol COVID saat Maulid Nabi di Tebet: Wagub DKI Abai Penangguhan Uji Klinis Vaksin Sinovac tak Pengaruhi Riset Disebut Penjual Selangkangan, Begini Tanggapan Nikita Mirzani Pos-pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP, banyak yang diproduksi oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia, seperti mebel, perhiasan perak, hand bag, pintu kayu dan sebagainya.BACA JUGAAS Perpanjang Bebas Tarif, Peluang Tingkatkan EksporDi saat terjadinya disrupsi perdagangan dunia akibat pandemi Covid-19, adanya keringanan bea masuk hingga nol persen di pasar AS, jelas membawa angin segar bagi eksportir di Tanah Air. GSP menjadi insentif yang tepat bagi produk-produk primadona Indonesia, termasuk sektor UKM, untuk bersaing di pasar AS.

Ditambahkan Dubes Lutfi bahwa Pemerintah Indonesia juga memproyeksikan dinaikkannya {status|standing} GSP menjadiLimited Trade Deal(LTD) agar {volume|quantity} perdagangan dua arah Indonesia dan AS dapat meningkat dua kali lipat hingga US$ 60 miliar pada tahun 2024.Sebagai dua perekonomian besar, kerja sama perdagangan dan investasi harus dilipatgandakan. LTD menjadi solusinya. LTD juga diproyeksikan dapat mengoptimalkan potensi kerjasama di luar perdagangan barang, khususnya digital {trade|commerce}, energi dan infrastruktur, serta peningkatan arus investasi. Meningkatnya arus perdagangan dua arah merupakan pintu masuk bagi perluasan kerjasama investasi.

GSP merupakan fasilitas perdagangan, berupa pembebasan tarif bea masuk, yang diberikan secara unilateral oleh Pemerintah AS kepada negara-negara berkembang di dunia sejak tahun 1974. Indonesia pertama kali mendapatkan fasilitas GSP dari AS pada tahun 1980.

Selain merupakan perekonomian terbesar di dunia, pasar AS selama ini dikenal sangat menjanjikan karena besarnya populasi yang mencapai 331 juta orang dan memiliki daya beli sangat tinggi, dimana pendapatan per kapita masyarakatnya tahun 2019 lalu mencapai US$ {65|sixty five}.000 per atau lebih dari Rp 900 juta per tahunnya.

Pada tahun yang sama, konsumsi rumah tangga per tahun masyarakat AS juga mencapai US$ {16|sixteen} triliun atau setara dengan sepertiga konsumsi rumah tangga dunia. Baca lebih lajut: BeritaSatu »

VIDEO: Zig-Zag Omnibus Law Ciptaker Sebelum Diteken Jokowi
Saat rakyat menentang dengan keras pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja, Presiden Joko Widodo menandatangani undang-undang tersebut.

Tinggalkan komentar