Menikmati Sensasi Kongkow Di Café Dari Container Di Surabaya

Liramedia.co.id, SURABAYA – Container atau peti kemas lazimnya digunakan untuk bisnis pengiriman barang. Ukuran standart container sebenarnya ada 2, yaitu Container 20 {feet|ft|toes} dan container {40|forty} {feet|ft|toes}. Container inilah yang digunakan untuk pengiriman barang keluar negeri dan didalam negeri.

Namun apa jadinya jika container itu dijadikan plaza tempat nongkrong yang asyik sembari menikmati kopi hangat atau menu makanan lezat lainnya layaknya café-café di luar negeri?

Di Surabaya, bukan mustahil tempat itu disediakan. Lewat tangan terampil Ferrando Wahyudi (29 th), tumpukan container bekas itu kini diubah menjadi plaza yang dinamakan Geldboom Eatry Plaza Surabaya.

Ferrando mengubah kotak-kotak besi itu menjadi Geldboom Eatry Plaza, yang didalamnya terdapat café, {hall|corridor} atau ruang pertemuan, working {space|area|house}, barbershop, dan ruang pelatihan. Khusus {hall|corridor}, memiliki kapasitas orang.

Berdiri diatas lahan seluas 5.000 meter persegi (m2) di Jl. By Pas Soekarno Hatta Surabaya, Ferrando mendesain {41|forty one} container menjadi tempat yang menarik dan nyaman. Dari {41|forty one} container yang tersedia, saat ini sebanyak 29 tenant dari container diisi oleh kuliner. Sebut saja Pentol Cuanki, Kumayaki, Halo Kopi, Warung Bu Nanik, “Jolali”, Pak Ateng (Bakso Poyah), Kebab Turki, Mixology, Bobi-q (Bola Ubi Goreng), Dapur Potluck “Kabeh Doyan”, Barbershop, Clean And Care, Oya Sushi, Sasty Food, Waroeng Cosy, Kafe 27, Mbok Gemol, Fresh From The Oven Hamada, Tteokbokki Queen, Geldbang, Min’s Coking, Porkaholic dan beragam kuliner lainnya. Sisa tenant lain dimanfaatkan untuk usaha lainnya.

Untuk bisa menikmati sensasinya, Geldboom Eatry Plaza dibuka mulai pukul 10.00 sampai pukul 22.00 WIB. Kecuali weekend, jam operasional mulai jam 10.00 sampai jam 24.00 WIB.

Ferrando menjelaskan, di luar negeri, tren pemanfaatan container untuk café atau ruang kantor sudah banyak dilakukan. Di Indonesia, tren penggunaan peti kemas untuk tempat usaha, kafe, atau ruang pelatihan muncul beberapa tahun belakangan.

Menurut Ferrando, proses pengerjaan Geldboom Eatry Plaza ini dimulai pada Agustus 2016 lalu. Dan {soft|gentle|delicate} opening pada 17 November 2017 kemarin dihadiri oleh istri Wakil Gubernur Jawa Timur, Fatma Saifullah Yusuf.

Soal perizinan, alumnus Lowa State University USA ini mengakui bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sempat kebingungan untuk mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Hal ini mengingat sifat container bisa dipindah-pindahkan. Meski pada akhirnya, perizinan Geldboom Eatry Plaza dikeluarkan oleh Pemkot Surabaya.

Lalu berapa nilai investasinya ? Ferrando bilang, untuk mendirikan Geldboom Eatry Plaza nilai investasi yang dikeluarkan tidak sebesar bangunan konvensional. Dia hanya mengeluarkan anggaran untuk pembelian beberapa container bekas dengan kisaran harga Rp 20 juta sampai Rp 25 juta per 1 unit container.

Walau pun begitu, ada masyarakat yang ragu dengan pemanfaatan kontainer bekas sebagai bangunan. Ini tak menyanggah, bahwa persepsi masyarakat itu juga pernah terjadi di beberapa wilayah lain dengan konsep yang sama. Kebanyakan orang menilai, kontainer modifikasi adalah kontainer bekas yang berkarat, udara lembab dan panas.

Tapi, Ferrando berusaha mengedukasi masyarakat bahwa container modifikasi tidak sama dengan {shipping|delivery|transport} container biasa. “Kontainer yang digunakan harus memiliki kualitas {80|eighty} persen minimal dan tidak bocor,” kata dia.

Untuk mengantisipasi masalah udara panas di dalam kontainer, ditambahkan konstruksi insulasi glasswool di dalam panel dinding dan ceiling. Glasswool ini tebal dan berfungsi sebagai penyerap panas dan suara hingga {16|sixteen} derajat celcius. Untuk pencegahan karat, dia menggunakan lapisan anti karat.

Rencanya, selain mendirikan di Jl By Pas Soekarno Hatta, Ferrando berniat ingin mendiirkan bangunan serupa di sekitar Juanda Sidoarjo. Dia berharap, kreativitas itu bisa menyaingi dengan container café di luar negeri. Contohnya di Seoul, Korea Selatan, yang terkenal dengan bangunan container {common|widespread|frequent} {ground|floor}. Di Amerika Serikat juga demikian, serta beberapa tempat lain.

“Di Jakarta juga ada bangunan seperti ini, tapi luasannya kecil hanya m2,” jelasnya. (Did)

Tinggalkan komentar